Cerita Cinta Sejati - Selamanya

Cerita Cinta Sejati - Selamanya




Pagi menjelang. Titik-titik embun masih menempel lekat di kaca jendela kamarku. Udara yang begitu dingin memeluk erat tubuh ini. Rasaya aku ingin tetap berada di balik selimut ini untuk mengindari dinginnya udara pagi ini. Jujur, aku memang paling tidak suka dengan bangun pagi, terlebih saat weekend ingin rasanya seharian aku menghabiskan waktuku di dalam kamar.

Pagi ini aku terbangun bukan karena jam wekerku berbunyi atau bukan karena bibi Naimah membangunkanku tapi, aku terbangun saaat lagu heavy metal terdengar nyaring dari kamar sebelah. Sejak beberapa hari ini, lagu-lagu heavy metal itu sering membangunkanku bahkan juga sering mengganggu waktu luangku yang sebagian besar aku gunakan untuk menciptakan lagu. Ya, aku memiliki hobi untuk menciptakan lagu.

O ya, kenalin namaku Sandi, aku baru duduk di kelas XII SMA. Aku adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara. Orangtuaku tinggal di Surabaya, sedangkan aku, tinggal di Bandung lebih tepatnya nge-kost di rumah temen papaku, Om Herman. Awalnya aku gak mau ngekost di rumah ini tapi, setelah dipikir-pikir ada enaknya juga, selain Riko – anak sulung Om Herman – umurnya sepantaran denganku, Riko juga satu sekolah denganku.



***


Kusibakkan selimut yang menindih tubuhku semalam ini. Aku mengusap mataku beberapa kali untuk memperjelas penglihatanku. Lalu, aku melangkahkan kakiku yang begitu berat meninggalkan kamar tidurku. Aku keluar kamar tidur bukan untuk mencuci muka atau apa, tapi aku ingin memperingati orang sialan yang ada di sebelah kamarku. Ya, aku ingin memeberi peringatan untuknya agar tak lagi memutar lagu heavy metal di pagi-pagi seperti ini. Bukannya aku gak suka sama aliran lagu ini tapi, siapa sih yang gak terganggu kalo enak-enak tidur lalu ada yang muter lagu heavy metal dengan volume yang begitu kencang?

”Berrkk!!! Berrkk!!! Berrkk!!!” aku mengetuk pintu kamar dengan keras.

Setelah aku tunggu beberapa saat, tak ada reaksi dari dalam kamar, lalu aku kembali mengetuk pintu itu dengan keras namun masih saja tak ada tanggapan. Hingga akahirnya, aku mencoba menekan ganggang pintu dan rupanya pintu tak terkunci. Tanpa permisi aku langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam kamar tersebut. Gila deh. Begitu masuk telingaku benar-benar tak kuat dengan suara lagu heavy metal yang begitu nyaring itu. Di dalam kamar, tak ada seorang pun berada di sana, sehingga aku leluasa untuk mematikan tape recorder yang ada di pojok kamar tersebut. Sambil memperhatikan isi kamar, aku berjalan menuju tape recorder itu berada. Aku benar-benar heran, dengan wall paper dan pernak-pernik kamar yang serba pink dan girly abis, kok bisa-bisanya sih pemilik kamar ini suka dengan lagu heavy metal. Heran : mode on.

”Heh, ngapain lo di kamar gue? Mau maling lo?” tuduh seorang cewek berdiri di pintu kamar sambil membawa semangkuk mie rebus.

Aku yang kaget langsung menoleh ke arah cewek tersebut. Aku langsung memasang tampang dingin padanya.

Cewek itu mengalihkan pandangannya pada tape recorder yang ada di sebelahku, ”Jadi elo yang mematikan tape recorder gue?” tanyanya agak emosi lalu masuk ke dalam kamar menghampiriku.

”Iya, gara-gara musik lo yang kampungan itu, pagi-pagi gini gue udah bangun. Gue ingetin ya, sekali lagi lo muter lagu sekenceng-kencengnya kayak pagi ini, gue gak akan segan-segan ngehancurin tape recorder lo!” ancamku.

“Oya? Berani lo?”

“Jangan pikir gue takut sama lo!” jawabku dingin kemudian berjalan meninggalkannya.

Aku menghentikan langkahku saat akan keluar dari pintu kamarnya, ”Satu lagi, jangan pernah update status yang isinya nyinggung ataupun ngejelek-jelekin gue lagi, kalo elo ngulang sekali lagi, liat aja ntar siapa yang akan lebih malu.” ancamku lagi.

Cewek itu menganga heran, ”Dari mana lo tahu semua itu?”

”Heh... itu gak penting! Yang penting gue udah ngingetin lo dan lo harus inget pesan gue itu!” kataku kemudian berjalan keluar dari kamarnya.



***


Lima belas menit sebelum berangkat, aku sarapan pagi di ruang makan bersama Riko. Pagi itu, suasana ruang makan itu tak seramai biasanya. Hanya ada aku dan Riko yang sibuk menyantap sarapan pagi hari ini.

”Keysa mana, Rik? Gak masuk hari ini?” tanyaku di sela-sela acara sarapan.

“Oh....” kata Riko sambil berusaha mengunyah nasi yang memenuhi mulutnya agar leluasa untuk bersuara, “Keysa udah berangkat tadi pagi, katanya sih mau ngeberesin PR-nya,”

“Oh....” ucapku sambil menggangguk lalu meneruskan memakan nasi goreng yang ada di hadapanku.

Riko memperhatikanku, “Kok gak tanya si Angel?”

”Buat apa tanya tuh cewek?”

” Hahaha, uhuk... uhuk... uhuk....” Riko tertawa lebar lalu tersedak.

Aku tersenyum senang melihat Riko tersedak, ”Syukurin lo!”

”Eh, kenapa sih lo gak suka banget sama si Angel?” tanya Riko setelah meminum air putih.

”Masa dari dulu elo gak ngerti sih, Rik? Elo udah lupa dengan kejadian di acara ulang tahun si Renata? Atau elo juga sudah lupa dengan tragedi 27 November?” jawabku mengingatkan Riko pada momment yang gak pantas untuk diingat dengan Angel, si dark Angel!!!

“Iya, gue tahu itu San. Tapi, apa sulitnya sih memaafkan Angel? Bayangkan aja, sekarang elo tinggal satu rumah dengan dia, otomatis elo ketemu dengan si Angel tiap waktu. Belum lagi kamar lo bersebelahan dengan dia, masa elo gak mau berdamai sama dia?”

“Gak ada kata damai buat gue dan dia. Sekali benci gue tetep benci sama tuh cewek,”

“Hahaha hati-hati, kata orang benci awal dari cinta,”

“Tapi, buat gue benci adalah awal dari perang dunia,” jawabku cuek.

“Terserah lo deh,”

“O ya, besok gue bakal ke rumah nenek gue di Medan, mungkin gue di sana sekitar seminggu,” Riko mengalohkan pembicaraan.

“Keysa juga ikut?”

“Iya, mungkin nanti malam gue dan Keysa udah berangkat ke Medan. So, lo jaga rumah ini ya! Jangan sampe ada barang-barang yang hilang,”

“Iya, gue akan haga rumah ini baik-baik. Santai aja,”

“Satu lagi, gue titip Angel juga,” tambah Riko sambil mengangkat piring dari meja lalu beranjak menuju dapur.

“Kalo Angel gue gak janji deh!” seruku.


***

Malam ini benar-benar sepi tak seperti biasanya. Aku tak lagi mendengar suara keras dari Riko dan Keysa yang selalu saling ejek setiap kali kami berempat (termasuk Angel), menonton DVD atau televisi bersama. Riko dan Keysa sudah pergi menuju bandara sejam yang lalu. Belum lagi hujan lebat yang turun sejak setengah jam yang lalu, benar-benar membuatku kesepian. Meski di rumah ini hanya tinggal aku, Angel dan bi Naimah tapi sama saja rumah ini sepi. Apalagi hubunganku dengan Angel yang tak rukun, yang semakin membuatku merasa hanya tinggal sendiri di rumah ini. Di tengah derasnya hujan yang turun itu, aku menyalakan laptop sambil mendengarkan lagu-lagu ciptaanku. Ingin rasanya aku mengupload ke internet tapi, aku takut banyak pihak yang mengklaim lagu ciptaanku menjadi lagu mereka.

”Tteett!!! Tteett!!!” bel rumah berbunyi.

”Bi naimah, ada tamu!!!” teriakku.

Beberapa saat kemudian bel rumah kembali berbunyi, sepertinya bi Naimah tak juga membuka pintu rumah.

”Bi Naimah ke mana sih?” ujarku sambil bangkit keluar kamar membuka pintu rumah.

”Ttteett!!!” bel rumah kembali berbunyi.

Aku segera membukakan pintu rumah. Betapa kagetnya aku saat aku tahu siapa seseorang yang sejak tadi memencet bel rumah itu. Ternyata orang tersebut adalah Angel, cewek yang bagiku sangat menyebalkan. Kulihat Angel menggigil kedinginan dan badannya basah kuyup. Ada apa dengan Angel?

”Elo?”

Angel berlari menuju kamar mandi. Aku sesegera mungkin menyusulnya tapi, Angel sudah masuk ke dalam kamar mandi.

”Ngel, elo gak pa-pa kan?” tanyaku dari balik pintu kamar mandi.

”Gue gak pa-pa,”

”Ya udah, abis ini gue tunggu lo di ruang makan,” ucapku.

Setelah itu aku menuju dapur untuk membuatkan Angel teh hangat. Aku jadi ingat pada mamaku yang selalu membuatkan aku teh hangat bila aku kehujanan atau sedang kedinginan. Selama di dapur, pikiranku selalu teralihkan pada Angel. Entah kenapa aku tak tega melihat cewek mungil itu kedinginan dan basah kuyup seperti itu. Tapi, jujur aku akui aku masih sedikit sebal jika mengingat perbuatan tak menyenangkan yang banyak ia lakukan padaku. Mulai dari ia mengejekku kampungan di depan teman-teman Renata saat ulang tahun Renata beberapa bulan yang lalu dan kejadian 27 November di mana Angel benar-benar mempermalukan aku lagi di depan teman-teman sekolahku karena ia tak terima aku mengejek Sintia – sahabatnya – padahal si Sintia dulu tuh yang mulai. Aku gak akan bisa melupakan kejadian menyebalkan itu. Sungguh.

Eh, ngomong-ngomong bi Naimah kemana sih? Dari tadi aku cari gak ada di rumah. Seusai membuat teh hangat, aku duduk di ruang makan. Aku memandangi roti tawar dan selai yang ada di atas meja. Aku menoleh ke arah jam dinding yang berada di atas kulkas, jarum panjang menunjuk ke angka enam dan jarum pendek menunjuk ke angka sepuluh. Sudah hampir lima belas menit Angel tak menampakkan dirinya sejak masuk ke dalam rumah. Tak lama berselang, Angel datang menemuiku di ruang makan. Rambutnya masih basah, ia juga terlihat lucu dengan menggunakan baju tidur. Meski sudah hampir setahun aku tinggal dengan dia, baru kali ini aku melihat Angel memakai pakaian seperti itu.

Aku tersenyum melihat penampilannya itu.

Angel menatapku heran, “Kenapa? Ada yang salah?”

“Nggak kok. Ayo duduk!”

Angel mengambil posisi tepat di depanku, “Ada apa lo nyuruh gue ke sini?”

“Gue cuma mau tanya, elo dari mana aja sampe basah kuyup seperti tadi?”

“Heh, ngapain lo nanyain hal ini? Udah mulai peduli sama gue, lo?”

Aku terheran-geran mendengar jawabannya, “Hei, Dark Angel! Selama lo masih ada di rumah ini, gue punya tanggung jawab buat ngejaga lo meski gue jujur gak suka sama lo! Kalo aja Riko gak nyuruh gue untuk ngejaga lo, mungkin gue udah ngebiarin lo!”

”Jangan ngeles deh lo!” katanya lalu memberi senyuman sinis.

”Heh, Ngel sejak ngeliat lo kedinginan dan basah kuyup, gue udah mulai bersimpati pada lo tapi, setelah gue tahu ternyata elo emang keras kepala rasa simpati itu udah hilang! Gue heran kenapa sih elo tuh suka bikin gue kesal?”

”Itu semua gue lakukan karena elo duluan yang mulai,”

”Gue???”

”Iya, elo yang mulai! Gara-gara lo, persahabatan antara gue, Nindy dan Lia hancur!”

“Apa? Gara-gara gue? Apa hubungannya dengan gue?”

“Kalo boleh jujur, sejak gue masuk sekolah lo, persahabatan kita mulai merenggang karena Nindy dan Lia sama-sama naksir lo, sejak saat itu gue mulai benci sama lo!”

“Kenapa lo nyalahin gue? Seharusnya elo nyalahin kedua sahabat lo yang gak bisa menyelesaikan masalah ini. Satu lagi, elo sama dengan kedua sahabat lo, cemen. Cemen karena bisanya nyari kambing hitam aja sebagai sumber masalah.”

”Stop! Gue gak mau ribut lagi dengan lo!”

“Beruntung lo masih cewek, kalo nggak, jangan harap lo bisa melihat dunia lagi!” seruku kemudian berlalu meninggalkan Angel.


***


“Mas, Sandi!” seru bi Naimah mengetuk pintu sambil memanggil namaku.

Aku mengusap mataku yang terbangun dari tidur. Aku lirik jam wekerku, jam setengah dua pagi. Ada apa bi Naimah jam segini bangunin aku? Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.

“Ada apa, Bi?” tanyaku dengan suara berat.

Bi Naimah terlihat sangat panik, ”Aduh, Mas Sandi tolongin Mbak Angel, Mas!” pinta bi Naimah.

”Ada apa, Bi?”

”Aduh, Mbak Angelnya demam, Mas. Badannya panas, pucat,” ucap bi Naimah.

Aku langsung menuju kamar yang pintunya terbuka lebar. Di kamarnya, Angel terlihat menggigil hebat, badannya panas benget dengan butiran keringat di dahinya, ditambah lagi wajahnya yang sangat pucat. Poor you, Ngel!

”Angel, elo kenapa?” tanyaku sedikit panik.

”Kak Sandi....” ucapnya lirih tak terasa air matanya menetes.

”Elo kenapa sampai demam begini?” tanyaku lagi. Angel menggelengkan kepalanya.

“Bi Naimah, buatkan air hangat untuk kompres ya! Terus, ambilkan kotak P3K yang ada di ruang tengah!” suruhku pada bi Naimah.

“Iya, Mas.” Ucap bi Naimah kemudian meninggalkan aku dan Angel.

”Kak, thanks udah baik sama aku,” ucap Angel lirih.

”Iya, Ngel selama gue ada di sini lo yang tenang! Gue akan merawat lo,”

“Kak, maafin aku karena sudah banyak bikin Kak Sandi kesal.”

Aku tersenyum senang mendengar kata maaf dari mulut Angel, “Iya, kakak maafin kok.”

“Sekarang kamu yang tenang ya, sebentar lagi minum obat, biar mendingan.”

Angel menggenggam tanganku, ”Kak, sekali lagi maaafin aku ya!”


***


Hari ini, jam tujuh pagi aku sudah bersiap-siap untuk sekolah. Sudah hampir lima belas menit aku merapikan penampilanku. Bagiku, penampilan adalah yang utama karena orang lain akan menilai kita melalui penampilan pertama kali kita ketemu. Seusai merapikan rambut, aku keluar kamar. Ku lihat pintu kamar Angel terbuka lebar. Aku jadi ingat betapa paniknya aku semalam melihat keadaan Angel yang begitu mengkhawatirkan. Entah apa yang ada dipikiranku, aku melangkahkan kakiku menuju ke kamar Angel. Aku melongokkan kepalaku, kulihat di dalam kamar tak ada seorangpun di sana.

”Angel dimana?” pikirku.

”Mas, Sandi sarapannya sudah siap!!” teriak bi Naimah dari ruang makan membuyarkan pikiranku tentang keberadaan Angel.

Tanpa menjawab teriakan bi Naimah, aku langsung berjalan menuju ruang makan. Ku lihat telur mata sapi begitu bulat bertengger lezat di atas nasi goreng buatan bi Naimah. Aku mengambil posisi tepat di hadapan sarapan pagiku. Saat aku hendak memulai sarapan, mataku menangkap sebuah buku catatan berwarna pink tergeletak di atas meja makan. Tanpa tahu siapa pemiliknya, aku sudah mengetahuinya. Mataku menyisir ruang makan, kulihat tak ada Angel di sini. Hingga akhirnya, tanganku meraih buku tersebut.

”O ya, Mas Sandi, barusan mbak Angel sarapan dan katanya hari ini dia mau sekolah,” ”Sekolah? Memangnya Angel sudah sembuh total?” tanyaku heran.

”Tadinya, bibi juga berpikir begitu, Mas. Tapi, mbak Angel bilang kalau hari ini dia harus sekolah, katanya sih ada acara penting di sekolah. Kalo ndak salah mbak Angel ikutan lomba musik Mas, bi Naimah aja dijanjiin traktir kalo mbak Angel menang, katanya sih mau ditarktir makan bakso,”

”Angel ikutan acara musik? Maksudnya, lomba cipta lagu remaja? O ya? Gue baru tahu kalo tuh anak bisa bikin lagu,” kataku dalam hati.

Aku kembali mengalihkan perhatianku pada buku catatan atau lebih enaknya dibilang buku diary yang sudah berada di tanganku. Aku mulai membuka halaman pertamanya, kulihat tulisan Angel Fairy Diana terukir indah di sana. Hingga aku tergelitik untuk kembali membuka ke halaman berikutnya secara acak. Aku baru tahu, ternyata diary itu bukan berisi catatan harian seperti biasanya tapi, berisi kata-kata ”pujangga” yang Angel tulis. Sampai akhirnya, jariku berhenti di halaman terakhir.

”Aku tahu ini karma, sejak dulu aku takut akan datangnya karma. Hingga akhirnya hari ini aku menemui karmaku, karma dimana aku tak hanya ingin mencintai orang yang kubenci tapi, karma dimana aku juga ingin dia mencintai aku,”


***


Sekitar jam sepuluh pagi, auditorium sekolah begitu ramai. Hampir semua siswa SMA 29 Bandung memenuhi ruangan ini. Tak hanya siswa SMA 29, bahkan beberapa siswa dari SMA lain juga datang untuk menyaksikan final lomba cipta lagu remaja ini. Aku dan Denis celingukan saat memasuki auditorium sekolah ini. Mataku menyisir hampir semua ruangan auditorium untuk mencari tempat yang pas agar bisa menyaksikan penampilan para peserta lomba dengan leluasa. Kulihat ada deretan bangku kosong dekat panggung, aku menarik tangan Denis menuju tempat kosong tersebut.

Hampir satu jam lamanya beberapa peserta menyanyikan lagu ciptaannya. Selama perlombaan berlangsung, aku tak sabar untuk menyaksikan penampilan Angel. Bukan lantaran aoa-apa, aku tak sabar karena aku ingin menyaksikan ia bernyanyi, hal yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sempat terpikir dibenakku, Angel akan membawakan lagu heavy metal, genre muik favoritnya.

”Oke itulah tadi finalis nomor tiga belas yang menyanyikan lagu ciptaannya yang berjudul Life, Love and Leave. Beri applause dulu dong, buat Reza Hendra dari SMA 14.” ucap Uyang yang menjadi host acara tersebut.

”Selanjutnya kita panggilkan peserta kita yang ke empat belas, Angel Fairy Diana yang berasal dari SMA 29, beri tepuk tangan dong buat Angel!” kata Dani.

”Angel?” aku langsung menolehkan kepalaku ke arah panggung. Kulihat Angel berjalan menghampiri Uyang dan Dani. Kalau aku perhatikan sekilas, wajah Angel masih sedikit pucat. Dasar Angel, aku jadi heran kenapa dia sengotot ini ikutan lomba ini!

”O ya, denger-denger katanya si Angel ini adalah peserta terakhir yang ikutan audisi semalam di cafe Dalton ya?” tanya Uyang.

”Yeps, bener banget!” kata Angel.

”Bisa diceritakan gak?” tanya Dani.

“Iya, gue adalah peserta terakhir yang ikutan audisi tadi malam, lucunya aku menuju tempat audisi kehujanan sampai-sampai saat performance di depan juri juga aku agak gemetaran,” jawab Angel.

“Wow, it’s great! Kenapa sampai bela-belain gitu, Ngel?” tanya Uyang.

”Karena aku ingin menyampaikan lagu ini pada juri,”

”Memangnya lagu ini tentang apa sih? Bisa diceritakan?”

”Lagu ini sebenarnya bukan ciptaan saya, lagu ini adalah lagu milik teman aku yang dinyanyikan oleh aku. Lagu ini menceritakan tentang keinginan seseorang yang ingin hidup bersama orang yang dicintainya untuk selamanya. Lagu ini juga meyakinkan seseorang tentang perasaan yang ia rasakan pada orang yang dicintainya dan berharap orang yang dicintainya tersebut menerima cintanya. Kalo boleh jujur, lagu ini juga menggambarkan tentang perasaanku pada temanku yang sudah menciptakan lagu ini,” kata Angel pajang lebar.

”Hahaha tuh cewek konyol banget deh! Jadi penasaran gue sama orang yang dia maksud,” komentarku saat mendengar jawaban Angel.

”Oh... sweet ya! Ya udah, kita sambut Angel Fairy Diana dengan lagunya yang berjudul Selamanya,” kata Uyang dan Dani bersamaan. Tepukan meriah mengiringi langkah kaki Angel menuju piano yang berdiri tepat di tengah-tengah panggung. Angel mulai menekan tuts piano yang ada dihadapannya dan mulai menyanyikan lagu yang ia bawakan. Kayaknya aku kenal deh sama lagu ini. Oh, God! Lagu ini benar-benar lagu ciptaanku!!! Dari mana Angel dapet lagu ini?



Sayangku, dapatkah kau merasakan

Betapa besarnya rasa cintaku untukmu

Cintaku, pernahkah kita menduga

Di antara kita ada rasa yang mendalam

Sayangku, yakinlah akan cintaku

Yang kupersembahkan seutuhnya untukmu

Oh... Kasihku, jangan pernah kau ragukan

Luasnya cintaku yang kuberi untukmu

Oh... genggamlah tanganku ini sayang

Cintaku tlah tertambat mati untukmu

Selamanya... hanya dirimu yang selalu ada dalam hatiku

Selamanya... tentang dirimu kau selalu hadir dalam mimpiku

Engkau satu cintaku selamanya...


***

Jam dua siang, aku merebahkan tubuhku di sofa ruang tamu. Hampir setengah jam aku membanting tubuhku di ata sofa ini. Tak seperti biasanya aku nongkrong di ruang tamu seperti halnya siang ini. Ya, tak seperti biasanya. Aku menunggu seseorang datang ke rumah ini. Siapa lagi kalo bukan Angel. Sejak pulang sekolah, aku sudah menunggu dia tiba di rumah. Aku menunggunya bukan tanpa alasan, aku ingin memarahi dia karena menyanyikan lagu ciptaanku tanpa izin.

Seseorang membuka pintu rumah seraya menyapaku, ”Eh, Kak Sandi. Lagi apa?” tanyanya sambil memberi senyuman.

Aku mencoba bangkit dari sofa kemudian mendekatinya, ”Gak usah basa-basi deh, lo!”

Angel mengerutkan keningnya, ”Maksud Kakak apa?”

”Heh, elo ikut LCLR pake lagu gue kan? Apa maksud lo?”

”Kak, Sandi aku bisa jelasin semuanya,”

”Apa? Elo mau ngejelasin apalagi, Ngel?”

”Kak, please dengerin penjelasanku dulu!”

”Gue gak butuh penjelasan lo lagi, Ngel! Penjelasan lo gak akan bisa meredam emosi gue, inget itu!” seruku sambil menatap matanya yang mulai bersinar sendu.

”Tapi, Kak aku hanya ingin kakak tahu mengapa aku bawain lagu Kakak,”

”Terserah elo mau ngomong apa! Mulai dari sekarang, jangan pernah gue akan baik sama lo!” ucapku kemudian meninggalkannya terpaku di ruang tamu.

“Satu hal yang harus Kak Sandi tahu,” ucapnya menghentikan langkahku di atas tangga. Aku diam tak menoleh padanya.

“Nanti malam, pukul delapan, aku ingin Kak Sandi datang ke Purple Cafe, jika Kakak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku harap Kakak bersedia untuk datang,” lanjut Angel dengan suara yang berat karena menahan tangisnya.


***

Malam harinya, aku sedang menonton TV di ruang tengah. Seperti malam sebelumnya, malam ini sepi, benar-benar sepi. Riko dan Keysa masih belum dateng dari Medan sedangkan Angel, ia pergi sejam yang lalu menuju ke Purple cafe. Sebelum berangkat, dia menyuruhku untuk menemuinya di cafe tersebut tapi, sepertinya itu tidak begitu penting bagiku karena apapun penjelasan yang akan ia katakan nanti tak akan bisa merubah dan meredam rasa kesalku yang semakin berkecamuk ini.

Untuk mengisi waktu luangku, sejak sore tadi, aku menikmati tayangan TV yang sangat membosankan. Tak ada tayangan TV yang benar-benar bisa menghiburku. Sesekali aku kembali mengubah chanel TV, lagi-lagi hanya sederetan sinetron yang menghiasi layar kaca. Kalo ngomongin sinetron, aku jadi inget pada keluargaku di Surabaya. Biasanya, sekitar jam enam sore hingga sepuluh malam, Oma, Mama dan adik perempuanku standby di depan TV untuk menonton sinetron yang menurutku sangat membosankan bahkan membuat aku emosi karena akting pemainnya ”gak banget”. Lah, kenapa jadi ngomongin sinetron ya?! Hehehe back to my story...

“Krriinngg!!!” telepon wireless berbunyi.

Aku segera meraih telepon genggam yang ada di dekat sofa tempatku duduk.

“Halo!” sapaku.

“Hei, San! Apa kabar lo? Baik-baik aja kan?”

“Eh, elo, Rik! Kalo dibilang baik sih nggak, kalo dibilang buruk agak sih, elo?”

“Gue happy, sob! Kenapa? Lo ada masalah lagi sama Angel?”

“Kok tahu?” tanyaku sambil mengerutkan kening.

“Ya iyalah, gue tadi liat infotainment terus ada gossip lo sama Angel muncul, ya udah gue pantengin aja tuh TV sampe gossip lo abis. Emangnya elo ada apa lagi sih sama Angel?”

“Hahaha gokil, lo!” responku, lumayan bisa terhibur setelah hampir seharian emosi.

“Lah, malah ketawa.” Ucap Riko heran, “San, kayaknya elo tuh memang udah waktunya deh baikan sama Angel, kasihan dia. Kalo gak ada lo, siapa yang jaga dia? Kalo elo juga marahan sama dia, otomatis elo kan gak bisa jagain dia?”

“Baikan? Enak bener lo bilang baikan, elo sih enak gak punya masalah sama dia. Gue? Gue udah banyak banget masalah sama dia termasuk yang terakhir ini nih, dia bawain lagu gue di LCLR,”

“Oya? Jadi, dia bawain lagu lo, San?”

“Iya, emang kenapa?”

“Hahaha gak pa-pa. O ya

Bekerja Untuk Belajar, Jangan Bekerja Untuk Uang


Bekerja untuk belajar, jangan bekerja untuk uang.


Keterangan :

  • Sebagian orang begitu lulus sekolah, mereka bekerja dan tidak pernah belajar lagi. Mereka terjebak rutinitas kerja mencari uang dan tidak pernah berkembang.
  • Sebagian orang bekerja sambil belajar dengan tujuan agar memiliki keterampilan tinggi dan naik gaji. Mereka semakin gaji naik dan pilihannya semakin hilang karena mereka berkompeten disatu bidang.
  • Hanya sebagian kecil orang yang bekerja untuk belajar menjadi kaya dan sukses.
Bila menyangkut soal uang, satu-satunya keterampilan yang paling diketahui oleh banyak orang adalah bekerja keras, sebetulnya menurut Robert T.Kiyosaki mereka butuh satu keterampilan lagi untuk menjadi kaya yaitu belajar.
belajar kunci kesuksesan, belajar dari sebuah pengalaman...

Sahabat terbaik

"Sahabat Terbaik"





"Persahabatan bukan hanya sekedar kata, 
yang ditulis pada sehelai kertas tak bermakna, 
tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci, 
yang ditoreh diatas dua hati, 
ditulis dengan tinta kasih sayang, 
dan suatu saat akan dihapus dengan tetesan darah dan mungkin nyawa"..

**
“Key… sini dech cepetan, aku ada sesuatu buat kamu”, panggil Nayra suatu sore. 
“Iya, sebentar, sabar dikit kenapa sich?, kamu kan tau aku gak bisa melihat”, jawab seorang gadis yang dipanggil Key dari balik pintu.

Keynaya Wulandari, begitulah nama gadis tadi, meskipun lahir dengan keterbatasan fisik, dia tidak pernah mengeluh, semangatnya menjalani bahtera hidup tak pernah padam. Lahir dengan kondisi buta, tidak membuatnya berkecil hati, secara fisik matanya tidak bisa melihat warna-warni dunia, tapi mata hatinya bisa melihat jauh ke dalam kehidupan seseorang. Mempunyai hoby melukis sejak kecil, dengan keterbatasannya, Key selalu mengasah bakatnya. Tak pernah sedikitpun dia menyerah.

Duduk di bangku kelas XII di sebuah Sekolah Luar Biasa di kotanya, Keynaya tidak pernah absen meraih peringkat dikelas, bahkan guru-gurunya termotivasi dengan sifat pantang menyerah Key. Sejak baru berusia 3 tahun, Keynaya sudah bersahabat dengan anak tetangganya yang bernama Nayra Amrita, Nayra anak seorang direktur bank swasta di kota mereka. Nayra cantik, pinter dan secara fisik Nayra kelihatan sempurna.

***
Seperti sore ini, Nayra sudah nangkring di rumah Key. Dia berbincang-bincang dengan Key, sambil menemani sahabatnya itu melukis.
“Key, lukisan kamu bagus banget, nanti kamu ngadain pameran tunggal ya, biar semua orang tau bakat kamu”, kata Nayra membuka pembicaraan. 
“Hah”, Key mendesah pelan lalu mulai bicara, “Seandainya aku bisa Nay, pasti sudah aku lakukan, tapi apa daya, aku ini gak sempurna, seandainya aku mendapat donor kornea, dan aku bisa melihat, mungkin aku bahagia dan akan mengadakan pameran lukisan-lukisanku ini” ucap Keynaya dengan kepedihan.
“Suatu hari nanti Tuhan akan memberikan anugrahnya kepadamu, sahabat, pasti akan ada yang mendonorkan korneanya untuk seorang anak sebaik kamu,” timpal Nayra akhirnya.

Berbeda secara fisik, tidak pernah menjadi halangan di dalam jalinan persahabatan antara Nayra dan Keynaya, kemana pun Nayra pergi, dia selalu mengajak Key, kecuali sekolah tentunya, karena sekolah mereka berdua kan berbeda.

Sedang asik-asiknya dua sahabat ini bersenda gurau, tiba-tiba saja Nayra mengeluh,
“aduuh, kepala ku”
“Kamu kenapa Nay, sakit??” tanya Keynaya.
“Oh, ngga aku gak apa-apa Key, Cuma sedikit pusing saja”, ucap Nayra sambil tersenyum.
“Minum obat ya Nay, aku gak mau kamu kenapa-napa, nada bicara Key terdengar begitu khawatir.
“aku ijin pulang dulu ya Key, mau minum obat” ujar Nayra sambil berpamitan pulang.

Di kamarnya yang terkesan sangat elegan, nuansa coklat mendominasi di setiap sudut ruangan, Nayra terduduk lemas di atas ranjangnya,
“Ya Tuhan, berapa lama lagi usiaku di dunia ini?? Berapa lama lagi malaikatmu akan menjemputku untuk menghadapmu?” erang hati Nayra.
Di vonis menderita leukimia sejak 7 bulan lalu dan tidak akan berumur lama lagi sungguh menyakitkan bagi Nayra, usianya yang baru 18 tahun, dengan segudang cita-cita yang dia inginkan, sudah pasti tak satupun akan terwujud.

***
Pintu kamar Nayra tiba-tiba terbuka, seorang wanita cantik paruh baya masuk lalu duduk disampingnya. 
“Gimana rasanya sayang? Masih gak enak?? Kita ke dokter sekarang yuk!!!” ujar wanita itu dengan lembutnya.
“ngga usah, ma, aku sudah enakan kok, aku cuma mau beristirahat saja”, jawab Nayra dengan sopan. 
“ya sudah kalau begitu, mama tinggal dulu ya, istirahat ya, Nak,” ujar sang mama sambil mencium kening putri semata wayangnya.
“Makasih ma, aku selalu sayang mama,” lirih Nayra berujar.
Terus terang Nayra sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya, tapi dia berusaha menyembunyikan itu dari orang tuanya.

Di ruang keluarga, ibu Rita, duduk sambil menemani sang suami sepulangnya dari kantor,
“Ma, Nayra kemana?? Kok papa gak melihatnya dari tadi?” tanya sang suami.
“Nayra lagi istirahat pa, dia pusing dan mengeluh sakit dari tadi”, jawab Rita.
“Sakit apa sebenarnya anak kita ma?? Kalau kita ajak ke dokter dia selalu menolak, papa rasa ada yang dia sembunyikan dari kita, aku takut penyakitnya parah,” dengan nada khawatir pak Artawan bicara dengan istrinya. 
“entahlah pa, mama juga bingung” ujar istrinya lagi.

***
Ternyata sakit yang dirasakan Nayra sore itu adalah pertanda dia akan segera di panggil menghadap Tuhan, saat minta ijin untuk istirahat pada mamanya, kesehatan Nayra benar-benar drop, dengan panik kedua orang tua Nayra melarikan putrinya ke rumah sakit, setelah mendapat penanganan oleh tim dokter, Nayra sedikit terlihat tenang, namun mukanya terlihat pucat, sinar matanya terlihat begitu redup.
“Pak Artawan, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya”, kata dokter Gunawan, yang juga merupakan dokter pribadi keluarga Artawan.
“Baiklah dok, “ sambut pa Artawan.

Setelah pak Artawan dan ibu Rita duduk di ruangan dokter Gunawan, mereka akhirnya mulai bicara, 
“Maafkan saya sebelumnya pak, sebenarnya saya sudah tau penyakit yang diderita putri bapak sejak 7 bulan lalu, tapi karena putri bapak menyuruh saya merahasiakan penyakitnya kepada bapak dan ibu, saya gak bisa berbuat apa-apa. Putri bapak terkena leukimia,” ujar dokter Gunawan lirih.

Cukup lirih memang kata-kata dokter Gunawan, tapi mampu membuat jantung pak Artawan dan istrinya berdetak lebih cepat dari biasanya,
“Apa?? Leukemia? Separah apa dok??” keras nada suara pak Artawan.
“sudah parah pak, umur Nayra tidak akan lama” sambung dokter kembali.
Setelah berbicara lama dengan dokter, air mata tak pernah berhenti mengalir di pipi Rita. Dia begitu terpukul mendengar putrinya menderita penyakit itu.
“udah, ma, jangan nangis terus, pengobatan Nayra akan diusahakan, kita akan mengusahakan kesembuhannya, lebih baik kita berdoa, semoga Tuhan memberikan jalan terbaik buat keluarga kita”, hibur pak Artawan.
“mari kita tengok Nayra!!” ajaknya lagi.

Memasuki ruangan perawatan, ibu Rita berusaha menyembunyikan air matanya, dia tersenyum penuh kepedihan di samping ranjang putrinya,
“Mama, kenapa? Kok sedih begitu?” ujar Nayra lirih.
“Gak apa-apa sayang”, berbisik ibu Rita tak kuasa menahan air matanya.
“Maafkan Nayra, Ma, Pa, Nayra tak bermaksud membuat Mama dan Papa terluka seperti ini, Nayra hanya tak ingin menyusahkan kalian” Nayra berkata dengan terbata-bata.

Belum ada beberapa menit pak Artawan dan ibu Rita di kamar putrinya, tiba-tiba Nayra kejang-kejang. Dengan panik pak Artawan memanggil dokter Gunawan. Dokter Gunawan menangani Nayra lumayan lama, hingga akhirnya dokter Gunawan keluar, muka beliau kelihatan sangat sedih.
“Bagaimana anak saya, dok?” tanya pak Artawan.
“Maaf pak, kami disini sudah berusaha yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain, Nayra sudah dipanggil menghadapNya” ucap dokter.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk”, teriak ibu Rita isteris,“ Nayra tidak mungkin meninggal, Nayra masih hidup,” seluruh pengunjung rumah sakit menoleh ke arah mereka.
“Pak, sebelum meninggal, Nayra menitipkan ini ke saya, ini buat bapak dan ibu” imbuh dokter Gunawan sebelum mohon diri.

Sepeninggal Dokter Gunawan, pak Artawan dan istrinya membuka amplop kecil dari Nayra, isinya ternyata surat.
“Mama, papa, maafin Nayra sudah membuat mama dan papa jadi sedih, Nayra mohon sama mama dan papa, setelah Nayra meninggal, tolong berikan kornea mata Nay untuk Keynaya, tapi jangan bilang itu dari Nayra sebelum Keynaya benar-benar operasi dan bisa melihat lagi, dan satu lagi, mama tolong kasih Keynaya surat yang Nayra simpan di laci meja belajar Nayra yang amplopnya berwarna pink setelah Keynaya melihat nanti, dan surat buat mama dan papa ada di dalam amplop biru di laci yang sama. Sekian dulu Mama, papa, maaf kalau Nayra selalu ngerepotin kalian, Nayra sayang kalian, big kis & hug.. muacch”..
Nayra Amrita

Selain sepucuk surat itu, ada lagi sebuah surat pernyataan pendonoran kornea mata yang telah lengkap dengan tanda tangan Nayra. Hati orang tua Nayra tersayat, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain memenuhi permintaan terakhir sang anak.

***
Sementara itu, di rumah Keynaya, tampak gadis cantik itu tengah duduk seorang diri di teras rumahnya. Wajahnya tampak sedikit murung,
“kemana si Nayra, sudah lebih dari 5 hari dia gak main ke sini, apa dia baik-baik saja?” gumamnya.
“Ma, Nayra pernah kesini gak dalam beberapa hari ini?” tanya Keynaya ke pada mamanya.
“Gak ada, Key, memang kenapa?” tanya sang mama.
“Gak apa-apa ma, aku ke rumah Nayra sebentar ya!!” Key meminta ijin ke mamanya.

Tapi diluar dugaan, mama Keynaya melarangnya pergi.
“Jangan Key, kita harus ke rumah sakit sekarang juga, tadi mama ditelepon sama pihak rumah sakit, katanya ada yang menyumbangkan korneanya khusus untuk kamu,” dengan tutur kata yang lembut mamanya menjelaskan.
“Yang bener, Ma? Key sudah dapat donor kornea?? Asik-asik, Key akan segera bisa melihat wajah Nayra, Key bisa segera menggelar pameran lukisan,” ucap Key berapi-api.
“Iya nak” jawab mamanya penuh kepedihan. “seandainya kamu tahu sayang, Nayra tak mungkin ada disamping kamu lagi, Nayra sudah tenang dialam sana, dan seandainya kamu tahu siapa orang yang mendonorkan korneanya untuk kamu” kata ibu Rasti dalam hati.

Waktu berjalan begitu cepat, operasi cangkok kornea sudah dilaksanakan dan sekarang adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Keynaya, perban di matanya akan di buka, tim dokter beserta kedua orang tua Key sudah ada di ruangan Key. Sebelum perbannya di buka, Keynaya berujar,
“Ma, Pa, Nayra sudah datang?? Ku ingin sekali ada Nayra di sini pas aku bisa melihat”
“belum sayang, Nayra masih diluar kota” pedih rasanya hati ibu Rasti saat berujar.

Perban akhirnya di buka, samar-samar penglihatan Keynaya mulai melihat warna, melihat sosok kedua orang tuanya, dia tersenyum, semakin lama semakin jelas,
“Mama, papa aku bisa melihat kalian,” gembira sekali suara Keynaya.

***
Sudah 1 minggu semenjak Keynaya bisa melihat, hari ini dia memaksa ibunya agar diperbolehkan melihat Nayra, mengujungi Nayra,
“Kata mama Nayra sudah ada di rumah, berarti Key boleh main donk Ma, Key pingin ngajak Nayra jalan-jalan buat merayakan kesembuhan Key,”
“Iya, nak, mama sama papa temenin kamu ya!!”

Berbeda beberapa rumah antara Nayra dan Keynaya merupakan hal yang membahagiakan, tidak perlu capek-capek bermacet-macet ria di jalanan untuk mengunjunginya. Sesampai di rumah Nayra mereka disambut ramah oleh keluarga Nayra yang kebetulan lagi ada di rumah.
“Selamat sore tante Rita’” sapa Keynaya dengan senyum sumringah.
Setelah di persilahkan duduk dan menikmati hidangan ala kadarnya, Keynaya menanyakan keberadaan sahabat karibnya,
“mana Nayranya tante?? Kok gak kelihatan ada di rumah?”
“Nayranya… Nayra.. Nayra..” dengan terbata-bata ibu Rita menjawab.
“Nayra kenapa tante, kemana?? Nayra tidak apa-apa kan?” bertubi-tubi Keynaya bertanya.

Ibu Rita tak kuasa menjawab, beliau meninggalkan tamunya di ruang tamu dan berlari naik ke kamar Nayra, mengambil sepucuk surat yang dititipkan Nayra untuk Keynaya. Ibu Rita kembali ke ruang tamu dengan sepucuk surat di tangan,
“ini dari Nayra untuk kamu” ujarnya berlinang air mata kepada Keynaya.

Dengan tangan gemetar Keynaya membuka amplop berwarna pink yang cantik itu, ada pita pink juga di sudut amplonya.

Dear Keynaya

“Keynaya sayang, sahabatku yang paling baik, apa kabar hari ini?? Baik-baik sajakah?? Sehat-sehat?? Semoga sehat ya!! Key, saat kau membaca surat dari aku ini, mungkin aku sudah tak ada lagi di dunia ini, tak ada di samping kamu, tak bisa menemani kamu bermain, bercanda dan tertawa, maafkan aku ya Key.

Key sayang, sebenarnya aku ingin sekali cerita ke kamu tentang penyakitku, tapi aku takut membuat kamu kepikiran terus, takut buat kamu gelisah. Sebenarnya aku terkena penyakit leukemia, Key dan umurku tidak akan lama lagi.

Key sayang, meskipun aku telah pergi dari sisi kamu, tapi rasa sayang aku ke kamu tak akan pernah berubah, kamu sahabat terbaik di hidupku, kamu tempatku berkeluh kesah, tempatku menumpahkan suka dan duka. Key, ku tahu saat kau membaca ini, kau sudah bisa melihat indahnya dunia, sengaja ku berikan mataku untuk kamu Key, hanya itu yang bisa aku berikan, jaga mata itu seperti kau menjaga persahabatan kita.

Segitu dulu Key, maafkan aku karena harus pergi meninggalkanmu, terima kasih karena sudah memberikan aku arti selama hidup di dunia. Sampai ketemu suatu saat nanti Key, aku sayang kamu sahabatku.
Kiss and big hug my lovely friend, my best friend in my life….muaaachh…

Dariku yang selalu menyayangimu
Nayra Amrita

Air mata mengalir deras di pipi Keynaya,
“ini tidak mungkin” katanya lirih. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar tak percaya, sahabatnya sudah kembali ke pangkuan Tuhan, Keynaya menatap selembar foto yang juga ada di dalam amplop surat tadi, foto Nayra tersenyum manis ke arahnya, mata Nayra yang teduh, sekarang ada padanya. Keynaya meminta agar kedua orang tua Nayra mengantarnya ke kuburan.

Lumayan jauh dari rumah Nayra, kaki Keynaya lemah, tapi dia berusaha mengikuti langkah kaki orang tuanya dan orang tua Nayra ke sebuah makan yang begitu tertata rapi, taburan bunga masih segar, tanah pekuburannya juga masih basah.
Sebuah Nisan yang begitu cantik dihadapan Keynaya, membuatnya semakin terluka, jelas tersurat di batu nisan berwarna putih itu nama sahabat karibnya.

“Nayra Amrita Artawan”
Lahir 8 Januari 1994
Wafat 14 April 2011

Berjongkok Keynaya membelai nisan itu, gerimis turun membasahi nisan, semakin lama semakin deras, sederas airmata yang jatuh di pipi Keynaya,
“kenapa secepat ini kau tinggalkan aku, Nay?? Tega kamu?? Meninggalkan aku seorang diri disini.” Nayra, terima kasih sayang, kau telah memberikan aku sepasang mata untuk melihat dunia ini, terima kasih karena telah mengajariku tentang ketulusan sebuah persahabatan, terima kasih atas senyum termanis yang pernah kau hadirkan di hidupku” ucap Keynaya sambil terisak lirih di atas nisan.

Tangan lembut ibu Rasti terulur ke arah putrinya,
“Bangun Key, sudah, ikhlaskan saja Nayra, dia sudah tenang di sana, dia sudah berada di pangkuan Tuhan, yang harus kamu tahu, Nayra tak pernah ingin kamu cengeng, kamu harus tetap semangat menjalani hidup kamu,” bimbing ibu Rasti.
“iya ma, terima kasih, aku hanya sedih saja, tapi aku janji gak akan cengeng lagi setelah hari ini”, kata keynaya.

***
sumber : Facebook Van Chibenk Cuphu 21 Mei.