Tujuh Tips Jitu Beri Nasihat Ibu Hamil
Ibu hamil paling sensitif bila dinasihati. Tapi sebagai teman dan sesama bunda –apalagi mungkin saat ini sedang sama-sama hamil, Anda tak bisa diam saja melihat cara dan pikiran “salah” yang dijalankannya, yang bisa mengancam keselamatan dirinya dan janinnya. Karenanya, sebelum terjadi hal tak diinginkan, coba untuk berempati, bagaimana perasaannya bila mendengar nasihat Anda. Jangan-jangan niat baik Anda malah dianggapnya bawel, reseh, dan mengganggu kenyamanan. Ini tips dari Ayahbunda yang bisa Anda praktikkan.
1. Pakai Prolog
Kasus: Bertemu ibu hamil tak dikenal di toilet umum.
Nasihat: “Wah, hamil berapa bulan, Bu? Sesudah melahirkan, rencananya akan menyusui? (prolog). Bayi saya dapat ASI eksklusif 6 bulan, ia sehat dan jarang sakit. Nanti jangan lupa menyusui ya, Bu!” (nasihat)
Mengapa cara ini? Karena Anda tidak mengenal ibu hamil, gunakan prolog agar tidak “tembak langsung”. Cara menasihati juga tidak kentara, karena sambil menceritakan pengalaman pribadi secara kasual, ringan, bersahabat.
2. Gunakan Orang Ketiga
Kasus: Melihat teman yang hamil minum wine di pesta.[
Nasihat: “Minum wine? Memangnya boleh sama doktermu? Dokterku dulu melarang, karena ...” (dokter sebagai orang ketiga).[
Mengapa cara ini? Membuat Anda tidak berkesan sok tahu atau menggurui, dengan mengutip saran orang ketiga yang kompeten, yaitu dokter kandungan.
3. Gunakan Taktik “Menggali” Lewat Pertanyaan
Kasus: Teman yang hamil berkata bayinya nanti akan diberi susu formula saja.
Nasihat: “Oh ya? Memangnya kamu tidak bisa menyusui? Boleh nggak aku tahu masalahnya?” (menggali lewat pertanyaan). “Kalau aku boleh usul, lebih baik bayimu disusui saja karena masalahmu itu bisa diatasi dengan ....” (nasihat).
Mengapa cara ini? Dengan bertanya, Anda memberi kesempatan ibu memaparkan masalahnya, sehingga nasihat Anda lebih berempati dan kena sasaran.
4. Teknik Memberi Saran/Usul
Kasus: Sekelompok ibu –satu di antaranya sedang hamil– sedang mengobrol. Seorang ibu berkata susu formula zaman sekarang bagus-bagus, tidak kalah dengan ASI. Ibu yang sedang hamil tampaknya setuju.
Nasihat: “Aku boleh kasih saran, nggak? (minta izin) Menurutku, ASI tetap yang terbaik untuk bayi kita. Ibu-ibu di Amerika saja sekarang sedang menggerakkan Calling for Action, kembali ke ASI.” (nasihat).
Mengapa cara ini? Minta izin sebelum memberi saran yang berbeda lebih simpatik daripada langsung mendebat obrolan para ibu.
5. Memakai Referensi Tepercaya
Kasus: Seorang teman berkata akan bersalin secara caesar karena janinnya sungsang.
Nasihat: “Kemarin saya baru saja baca artikel di majalah Ayahbunda, bahwa tidak semua kasus sungsang memerlukan operasi caesar.” (Majalah Ayahbunda dijadikan referensi tepercaya).
Mengapa cara ini? Isi nasihat Anda jadi “kuat” sebab ada sumber referensinya.
6. Sampaikan Secara Tidak Langsung
Kasus: Teman yang hamil memesan sushi saat makan bersama Anda.
Nasihat: “Wow, sushi memang enak, tapi mudah-mudahan tidak ada bakteri salmonelanya, ya!” (kalimat tidak langsung, maksudnya menasihati bahwa sushi mengandung bakteri salmonela).
Mengapa cara ini? Ibu tidak merasa sedang dinasihati, tapi kata-kata Anda bisa membangkitkan kepeduliannya.
7. Sampaikan Sambil Bercanda
Kasus: Teman dekat yang sedang hamil mengalami stres, mulai merokok lagi di depan Anda.
Nasihat: (dengan suara dan ekspresi anak kecil) “Mama, Mama... tolong! Aku kecekik asap rokokmu! Kalau stres jangan merokok dong, Ma!” (menyampaikan sambil bercanda).
Mengapa cara ini? Ibu tidak merasa sedang dinasihati, tapi isi gurauan Anda bisa membangkitkan kepeduliannya.
1. Pakai Prolog
Kasus: Bertemu ibu hamil tak dikenal di toilet umum.
Nasihat: “Wah, hamil berapa bulan, Bu? Sesudah melahirkan, rencananya akan menyusui? (prolog). Bayi saya dapat ASI eksklusif 6 bulan, ia sehat dan jarang sakit. Nanti jangan lupa menyusui ya, Bu!” (nasihat)
Mengapa cara ini? Karena Anda tidak mengenal ibu hamil, gunakan prolog agar tidak “tembak langsung”. Cara menasihati juga tidak kentara, karena sambil menceritakan pengalaman pribadi secara kasual, ringan, bersahabat.
2. Gunakan Orang Ketiga
Kasus: Melihat teman yang hamil minum wine di pesta.[
Nasihat: “Minum wine? Memangnya boleh sama doktermu? Dokterku dulu melarang, karena ...” (dokter sebagai orang ketiga).[
Mengapa cara ini? Membuat Anda tidak berkesan sok tahu atau menggurui, dengan mengutip saran orang ketiga yang kompeten, yaitu dokter kandungan.
3. Gunakan Taktik “Menggali” Lewat Pertanyaan
Kasus: Teman yang hamil berkata bayinya nanti akan diberi susu formula saja.
Nasihat: “Oh ya? Memangnya kamu tidak bisa menyusui? Boleh nggak aku tahu masalahnya?” (menggali lewat pertanyaan). “Kalau aku boleh usul, lebih baik bayimu disusui saja karena masalahmu itu bisa diatasi dengan ....” (nasihat).
Mengapa cara ini? Dengan bertanya, Anda memberi kesempatan ibu memaparkan masalahnya, sehingga nasihat Anda lebih berempati dan kena sasaran.
4. Teknik Memberi Saran/Usul
Kasus: Sekelompok ibu –satu di antaranya sedang hamil– sedang mengobrol. Seorang ibu berkata susu formula zaman sekarang bagus-bagus, tidak kalah dengan ASI. Ibu yang sedang hamil tampaknya setuju.
Nasihat: “Aku boleh kasih saran, nggak? (minta izin) Menurutku, ASI tetap yang terbaik untuk bayi kita. Ibu-ibu di Amerika saja sekarang sedang menggerakkan Calling for Action, kembali ke ASI.” (nasihat).
Mengapa cara ini? Minta izin sebelum memberi saran yang berbeda lebih simpatik daripada langsung mendebat obrolan para ibu.
5. Memakai Referensi Tepercaya
Kasus: Seorang teman berkata akan bersalin secara caesar karena janinnya sungsang.
Nasihat: “Kemarin saya baru saja baca artikel di majalah Ayahbunda, bahwa tidak semua kasus sungsang memerlukan operasi caesar.” (Majalah Ayahbunda dijadikan referensi tepercaya).
Mengapa cara ini? Isi nasihat Anda jadi “kuat” sebab ada sumber referensinya.
6. Sampaikan Secara Tidak Langsung
Kasus: Teman yang hamil memesan sushi saat makan bersama Anda.
Nasihat: “Wow, sushi memang enak, tapi mudah-mudahan tidak ada bakteri salmonelanya, ya!” (kalimat tidak langsung, maksudnya menasihati bahwa sushi mengandung bakteri salmonela).
Mengapa cara ini? Ibu tidak merasa sedang dinasihati, tapi kata-kata Anda bisa membangkitkan kepeduliannya.
7. Sampaikan Sambil Bercanda
Kasus: Teman dekat yang sedang hamil mengalami stres, mulai merokok lagi di depan Anda.
Nasihat: (dengan suara dan ekspresi anak kecil) “Mama, Mama... tolong! Aku kecekik asap rokokmu! Kalau stres jangan merokok dong, Ma!” (menyampaikan sambil bercanda).
Mengapa cara ini? Ibu tidak merasa sedang dinasihati, tapi isi gurauan Anda bisa membangkitkan kepeduliannya.
ikin_cz@yahoo.co.id of 'Eqi
0 komentar:
Post a Comment